SEKOLAH "KNOWING" VS SEKOLAH "BEING"
Gak heran orang-orang Jepang dari dulu sampe sekarang masih menerapkan sikap disiplinya. Alhasil teraturlah hidup mereka dan bermanfaat waktu disetiap harinya...
Disebuah perusahaan PMA dari Jepang mendapat pimpinan baru dari perusahaan induknya di Jepang. Ia akan menggantikan pimpinan yang sudah waktunya untuk balik ke negaranya. Salah seorang partnernya ditugaskan untuk mendampinginya selama Ia di Indonesia. Dia menawarkan untuk jalan-jalan dan mengenal objek wisata di kota Jakarta dan Bandung.
Pada saat mereka ingin menyeberang jalan, si orang Jepang tersebut selalu berusaha untuk mencari zebra cross, berbeda dengan dia dan orang lain yang dengan mudah menyeberang dimana saja sesukanya. Namun, orang Jepang tersebut tetep tidak terpengaruh dengan situasi. Dia terus saja mencari zebra cross atau jembatan penyeberangan setiap kali akan menyeberang.
Akhirnya sipartner tersebut menanyakan pandangan nya mengenai fenomena menyeberang jalan tadi.
Dia bertanya, mengapa orang-orang di negara ini menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun mereka tahu bahwa zebra cross itu adalah sarana untuk menyeberang jalan. Sementara kenapa dia selalu konsisten mencari zebra cross meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dengan sarana tersebut.
Pelan-pelan orang Jepang itu menjawab "It's all happened because of The Education System."
Kaget dengan jawaban tersebut sontak Ia membalas pertanyaan lagi " Apa hubungannya menyeberang jalan sembarangan dengan sistem pendidikan ?"
Orang Jepang tersebut melanjutkan penjelasanya, "Di dunia ini ada 2 jenis sistem pendidikan, yang pertama adalah sistem pendidikan yang hanya menjadikan anak-anak kita menjadi makhluk 'Knowing' atau sekedar tahu saja, sedangkan yang kedua sistem pendidikan yang mencetak anak-anak menjadi makhluk 'Being'.
"Apa maksudnya " si partner menjawab.
"Maksudnya sekolah hanya bisa mengajarkan bayak hal untuk diketahui para siswa. Sekolah tidak mampu membuat siswa mau melakukan apa yang diketahui sebagai bagian dari kehidupannya. Anak-anak tumbuh hanya menjadi 'Makhluk Knowing' hanya sekedar 'Mengetahui' bahwa :
-zebra cross adalah tempat menyeberang,
-tempat sampah adalah untuk menaruh sampah.
Tapi mereka tetap menyeberang dan membuang sampah sembarangan.
Sekolah semacam ini biasanya mengajarkan banyak sekali mata pelajaran. Tak jarang membuat para siswanya stress, pressure dan akhirnya mogok sekolah. Segala macam diajarkan dan banyak hal yang diujikan, tetapi tak satupun dari siswa yang menerapkannya setelah ujian. Ujiannya pun hanya sekedar tahu, 'Knowing'.
Di negara kami, sistem pendidikan benar-benar diarahkan untuk mencetak manusia-manusia yang tidak hanya 'Tahu' apa yang benar tetapi 'Mau' melakukan apa yang benar sebagai bagian dari kehidupanya.
Di negara kami, anak-anak hanya diajarkan 3 mata pelajaran pokok :
1. Basic Sains
2. Basic Art
3. Social
dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus dan dibandingkan dengan kejadian nyata di seputar kehidupan mereka. Mereka tidak hanya 'Tahu', mereka juga 'Mau' menerapkan ilmu yang diketahui dalam keseharian hidupnya. Anak-anak ini juga tahu persisi alasan mengapa mereka mau atau tidak mau melakukan sesuatu.
Cara ini mulai di ajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaaan yang kelak akan membentuk mereka menjadi makhluk 'Being', yakni manusia-manusia yang melakukan apa yang mereka tahu benar."
Betapa sekolah begitu memegang peran yang sangat penting bagi pembentukan perilaku dan mental anak-anak bangsa. Tidak hanya sekedar berfungsi sebagai lembaga sertifikasi yang hanya mampu memberi ijazah kepada para anak bangsa.
Karakter, perilaku dan kejujuran adalah landasan untuk membangun anak didik yang lebih beradab dalam berperilaku, bukan sekadar angka-angka akademik seperti yang tertera di buku-buku raport sekolah ataupun Indeks Prestasi IPK.
Kejujuran dan etika moral adalah prioritas utama, sedangkan kepintaran itu kita kembangkan kemudian, karena setiap anak terlahir pintar dan pendidikan itu sendiri adalah perkembangan.
Oleh sebab itu, seyogyanya, kita tidak perlu terlalu risau jika seorang anak belum bisa calistung (baca tulis hitung ) atau pipolondo (ping poro lan sudo) saat masuk SD sekalipun, tapi mestinya harus peduli jika seorang anak tidak jujur dan beretika buruk.
"Pendidikan itu bukan persiapan untuk hidup, karena pendidikan adalah kehidupan itu sendiri"
(B.Dewanto).
Gak heran orang-orang Jepang dari dulu sampe sekarang masih menerapkan sikap disiplinya. Alhasil teraturlah hidup mereka dan bermanfaat waktu disetiap harinya...
Disebuah perusahaan PMA dari Jepang mendapat pimpinan baru dari perusahaan induknya di Jepang. Ia akan menggantikan pimpinan yang sudah waktunya untuk balik ke negaranya. Salah seorang partnernya ditugaskan untuk mendampinginya selama Ia di Indonesia. Dia menawarkan untuk jalan-jalan dan mengenal objek wisata di kota Jakarta dan Bandung.
Pada saat mereka ingin menyeberang jalan, si orang Jepang tersebut selalu berusaha untuk mencari zebra cross, berbeda dengan dia dan orang lain yang dengan mudah menyeberang dimana saja sesukanya. Namun, orang Jepang tersebut tetep tidak terpengaruh dengan situasi. Dia terus saja mencari zebra cross atau jembatan penyeberangan setiap kali akan menyeberang.
Akhirnya sipartner tersebut menanyakan pandangan nya mengenai fenomena menyeberang jalan tadi.
Dia bertanya, mengapa orang-orang di negara ini menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun mereka tahu bahwa zebra cross itu adalah sarana untuk menyeberang jalan. Sementara kenapa dia selalu konsisten mencari zebra cross meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dengan sarana tersebut.
Pelan-pelan orang Jepang itu menjawab "It's all happened because of The Education System."
Kaget dengan jawaban tersebut sontak Ia membalas pertanyaan lagi " Apa hubungannya menyeberang jalan sembarangan dengan sistem pendidikan ?"
Orang Jepang tersebut melanjutkan penjelasanya, "Di dunia ini ada 2 jenis sistem pendidikan, yang pertama adalah sistem pendidikan yang hanya menjadikan anak-anak kita menjadi makhluk 'Knowing' atau sekedar tahu saja, sedangkan yang kedua sistem pendidikan yang mencetak anak-anak menjadi makhluk 'Being'.
"Apa maksudnya " si partner menjawab.
"Maksudnya sekolah hanya bisa mengajarkan bayak hal untuk diketahui para siswa. Sekolah tidak mampu membuat siswa mau melakukan apa yang diketahui sebagai bagian dari kehidupannya. Anak-anak tumbuh hanya menjadi 'Makhluk Knowing' hanya sekedar 'Mengetahui' bahwa :
-zebra cross adalah tempat menyeberang,
-tempat sampah adalah untuk menaruh sampah.
Tapi mereka tetap menyeberang dan membuang sampah sembarangan.
Sekolah semacam ini biasanya mengajarkan banyak sekali mata pelajaran. Tak jarang membuat para siswanya stress, pressure dan akhirnya mogok sekolah. Segala macam diajarkan dan banyak hal yang diujikan, tetapi tak satupun dari siswa yang menerapkannya setelah ujian. Ujiannya pun hanya sekedar tahu, 'Knowing'.
Di negara kami, sistem pendidikan benar-benar diarahkan untuk mencetak manusia-manusia yang tidak hanya 'Tahu' apa yang benar tetapi 'Mau' melakukan apa yang benar sebagai bagian dari kehidupanya.
Di negara kami, anak-anak hanya diajarkan 3 mata pelajaran pokok :
1. Basic Sains
2. Basic Art
3. Social
dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus dan dibandingkan dengan kejadian nyata di seputar kehidupan mereka. Mereka tidak hanya 'Tahu', mereka juga 'Mau' menerapkan ilmu yang diketahui dalam keseharian hidupnya. Anak-anak ini juga tahu persisi alasan mengapa mereka mau atau tidak mau melakukan sesuatu.
Cara ini mulai di ajarkan pada anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaaan yang kelak akan membentuk mereka menjadi makhluk 'Being', yakni manusia-manusia yang melakukan apa yang mereka tahu benar."
Betapa sekolah begitu memegang peran yang sangat penting bagi pembentukan perilaku dan mental anak-anak bangsa. Tidak hanya sekedar berfungsi sebagai lembaga sertifikasi yang hanya mampu memberi ijazah kepada para anak bangsa.
Karakter, perilaku dan kejujuran adalah landasan untuk membangun anak didik yang lebih beradab dalam berperilaku, bukan sekadar angka-angka akademik seperti yang tertera di buku-buku raport sekolah ataupun Indeks Prestasi IPK.
Kejujuran dan etika moral adalah prioritas utama, sedangkan kepintaran itu kita kembangkan kemudian, karena setiap anak terlahir pintar dan pendidikan itu sendiri adalah perkembangan.
Oleh sebab itu, seyogyanya, kita tidak perlu terlalu risau jika seorang anak belum bisa calistung (baca tulis hitung ) atau pipolondo (ping poro lan sudo) saat masuk SD sekalipun, tapi mestinya harus peduli jika seorang anak tidak jujur dan beretika buruk.
"Pendidikan itu bukan persiapan untuk hidup, karena pendidikan adalah kehidupan itu sendiri"
(B.Dewanto).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar